Selasa, 19 Desember 2023

Cinta Itu Pasti Kembali part 3

"Kau sangat cantik Selena, kau benar-benar luar biasa".
Austin menatap wanita yang berdiri didepannya dengan kekaguman yang tidak ditutupi. Selena memang sangat  cantik, tetapi malam ini dia luar biasa menakjubkan. Ini pertama kalinya Selena mengenakkan gaun pesta, dan dia berubah menjadi Cinderella.

"Tapi Austin...gaun ini mahal, aku tidak mampu membelinya".

"Selena, ini hadiah dariku. Aku tidak pernah memberikan apapun padamu. Aku ingin kau memakainya malam ini".

"Aku tidak membutuhkan ini".

"Tentu saja kau tidak butuh Selena, tapi bolehkah aku membelikanmu gaun ini?"

"Aku akan membayar gaun ini, aku akan mencicilnya setiap bulan".

"Tidak".

"Austin".

"Terserah padamu, Selena".
Akhirnya Austin menyerah, Selena bukan seperti gadis pada umumnya. Dia cerdas, pekerja keras dan memiliki harga diri yang tinggi. Semakin dekat dengan Selena, semakin membuat Austin tidak bisa berpaling darinya.

Dia belum pernah membawa Selena kemanapun, mereka hanya menghabiskan waktu di cafe tempatnya bekerja dan sesekali menikmati makan malam di kedai-kedai yang menjual makanan murah. Bersama Selena selalu sederhana tapi juga luar biasa. 

"Ehm Austin?"

"Iya? Apa kau gugup?"
Austin memegang telapak tangan Selena yang berkeringat dan memijatnya perlahan. Gadis ini begitu gugup tapi berusaha tidak menunjukkannya.

"Ah iya. Aku tidak pernah menghadiri pesta apapun".

"Aku senang mendengarnya, berarti aku yang pertama membawamu datang ke pesta. Kau tidak perlu gugup Selena, aku disampingmu, aku akan menjagamu".

"Austin....".

"Iya?".

"Apa kau anak orang kaya?".

"Mengapa kau bertanya?".

"Oh tidak, hanya saja gaun yang aku pakai sangat mahal. Gaun ini sanggup menghabiskan uang makanku selama 6 bulan".

"Kau tidak perlu menggantinya, anggap sebagai hadiah dariku".

"Tolong jangan seperti itu Austin. Maafkan aku. Hanya saja kau juga seorang mahasiswa, kau butuh biaya kuliah dan biaya hidup. Aku tidak ingin kau menghambur-hamburkan uang untukku. Jadi jangan khawatir, aku akan menyicilnya mulai bulan depan. Jangan sampai kau kesulitan membayar uang kuliahmu nanti".

"Selena....".

"Ya?".

"Ehm....tidak".

Selena mungkin satu satunya gadis yang akan berpikir soal penghematan saat bersama Austin. Tidak banyak yang tau kalau Austin Morgan adalah satu-satunya pewaris dari Morgan Holding Company. Austin memang tidak menginginkan dirinya dikenal sebagai Morgan Jr, jadi tidak banyak yang tau kehidupan pribadinya selain teman-teman dekatnya.

Ditambah lagi Austin juga bekerja sebagai asisten dosen untuk Profesor Wiles, dirinya juga melakukan banyak investasi dengan uang peninggalan ibunya, membuatnya tidak pernah kesulitan keuangan meskipun tanpa sokongan ayahnya Morgan Senior.


# CLAUDIA BIRTHDAY PARTY


"Kalian kau sudah datang? Dimana Austin?  Apakah dia akan datang?". Claudia bertanya kepada ketiga sahabat Austin yang sudah datang lebih dulu.

"Mungkin dia dalam perjalanan, kau tunggu saja".

"Tapi.....".

"Tenanglah Clau, nikmati pestamu dan segera tiup lilinnya".

"Aland,  jujurlah!  apa Austin sudah punya kekasih?".

"Clau, jika dia punya kekasih, kami semua pasti tau".
Aland menjawab pertanyaan Claudia dengan hati-hati. Sebenarnya dia juga tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Mungkin saja memang Austin punya kekasih atau mungkin tidak. 

"Dia tidak pernah mengangkat telepon dariku."

"Dia pasti sangat sibuk, beberapa Minggu ini dia sedang mempersiapkan presentasi untuk Prof Wiles"

"Oh...aku senang kalau begitu".
Claudia tampak ceria lagi, dan mulai berbaur bersama teman-temannya.

~~~~>>>

"Aland".

"Ehm?".

"Bukankah beberapa Minggu ini , Austin jarang  berkumpul bersama kita? Dia bahkan jarang pulang ke asrama. Apa kau tau sesuatu? Apa kau percaya saat  dia tadi mengatakan menyukai seorang gadis?".

"Aku tidak tau.  Kau Edward, bukankah kau satu departemen dengannya?". 

"Beberapa Minggu ini dia sering menghilang setelah kuliah selesai". 

Sejujurnya Aland juga melihat perubahan dari diri Austin.  Austin sekarang juga lebih ramah dan lebih  mudah didekati.  Lebih dari apapun, Aland lebih penasaran tentang gadis yang berhasil menaklukkan hati pria paling populer di Universitas. 

Raymond menepuk pundak Aland yang tampak melamun.

"Aland, mengapa aku sering melihatmu berkeliaran di departemen bisnis?".
Raymond mulai melihat Aland dengan penuh minat.

"Kau salah lihat". 

"Aku yakin itu kau". Raymond tersenyum sinis. 

"Apa kau kira aku pengangguran?".

"Tidak. Tapi aku yakin dengan penglihatanku. Katakan!".

"Beberapa mahasiswi membutuhkan bantuan ku membetulkan laptop mereka". Jawab Aland akhirnya.

"Hanya itu?". Raymond dapat mencium kebohongan Aland.

"Iya".

"Kau yakin?".

"Terserah". Aland mulai kesal dengan sikap sahabatnya yang terus mencecarnya dengan pertanyaan.

Departemen bisnis memang menjadi tempat favoritnya beberapa Minggu ini. Apalagi di departemen ini dia bisa melihat gadis cantik berambut cokelat yang sangat sering ditemuinya dalam mimpi. Beberapa kali Aland bertemu muka dengan gadis itu, tetapi mereka tidak pernah bertegur sapa. Padahal Aland sangat ingin menyapanya. Tapi sepertinya gadis itu tidak pernah memperhatikannya.

Diam-diam dirinya berusaha mencari tau dari salah satu temannya di departemen bisnis tentang gadis itu. Bahwa gadis cantik itu bernama Selena, dia kuliah di departemen bisnis tingkat 1 sebagai salah satu mahasiswi cantik berotak cemerlang di Universitas.

Selain cantik, gadis itu juga memiliki persahabatan yang manis dengan teman-temannya. Tentu saja, dengan sifat yang polos dan sederhana seperti itu pasti sangat menarik dibandingkan gadis-gadis agresif yang tahu keinginannya. Mengingat senyum malu-malu Selena membuatnya tersenyum sendiri. Meski senyum itu tidak ditujukan padanya.

"Kau melakukannya lagi". 

"Apa?"

"Tersenyum sendiri".

"Tolong jaga ekspresimu Raymond".

"Aku sudah menjaganya dengan baik. Ah dimana Austin?".

"Mungkin Austin benar-benar akan membawa seorang gadis". Edward menebak.

"Kau yakin? Itu tidak mungkin. Aku yakin Austin tadi sengaja mengelabui kita supaya dia tidak perlu datang kesini.  Dia sangat populer, kita pasti akan tau bila dia dekat dengan seorang gadis. Aku sendiri masih percaya dia sedang sibuk mempersiapkan tugas akhirnya". Raymond tersenyum optimis.

"Andai benar, Aku menyesal pernah menyarankan itu pada Austin. Dengan sikap Claudia dan teman-temannya yang angkuh  akan menyulitkan gadis yang menjadi kekasih Austin". Aland mulai khawatir.

Pikiran bahwa Claudia akan menyakiti gadis yang menjadi kekasih Austin membuatnya marah.  Dia harus melindungi gadis yang tidak bersalah itu.


~~~~>>>>

"Apa kau anak orang kaya Austin?"

Ini pertanyaan yang sama  yang Selena tujukan padanya malam ini.
Pertanyaan Selena kali ini membuatnya terdiam cukup lama. Pikirannya mengembara kemana-mana. Apakah Selena sudah mengetahui tentang keluarganya? Meski identitasnya dirahasiakan oleh tim humas ayahnya, tapi bisa saja ada orang yang membocorkannya.  Dan gadis ini berpura-pura tidak mengetahuinya karena tau aku  sangat menyukainya. Mungkin dia menganggapku sebagai tangkapan yang bagus? Ah Sial dengan pikiran ini, gadis ini begitu polos, tidak pernah ada kepura-puraan saat bersamanya. Dia tidak akan pernah melakukan itu padaku.

"Mengapa kau bertanya?".

"Aku pernah berpikir kita sama? Tapi setelah mulai mengenalmu, aku sadar kau dan aku benar-benar tidak sama"."

"Maksudmu?".

"Dulu ku pikir kau mahasiswa jenius dan tampan dengan ekonomi lemah. Tetapi melihat caramu menghabiskan uang dengan mudah di cafe tempatku bekerja, gaun ini dan juga tuxedomu yang kau kenakan itu, ehm itu tidak  mungkin dilakukan oleh orang miskin. Kau membeli apapun tanpa pernah melihat harga, sedangkan kami, akan melihat harga lebih dulu sebelum memutuskan untuk membeli apapun".

"Lalu?".

"Lalu aku salah. Jika kau menjadi incaran semua gadis di Universitas, berarti jenius dan tampan tidak cukup. Mereka pasti menganggapmu Pizza dengan full topping".

"Hahahaha terimakasih sudah mengatakan aku jenius dan juga tampan. Tetapi sebutan pizza full toping tampak berlebihan Selena".

Austin tertawa lepas. Ya Tuhan gadis ini sangat lucu, cantik dan menarik. Ingin sekali aku mencium bibirnya yang berwarna pink itu. Dengan gaun putih nya, dia tidak terlihat seperti seorang pelayan. Dia seperti nona muda keluarga kaya dan sialan, gadis ini memiliki lekuk tubuh ditempat-tempat yang seharusnya. 

Aku ingin sekali menciumnya sejak aku melihatnya berjalan bersama kedua temannya ke kantin Universitas. Dan aku tidak bisa menahan keinginanku lagi.

"Selena?"

"Ehm".

"Aku harus melakukan ini".
Dan aku menciumnya dengan sangat lembut, ini adalah ciuman pertamaku dan aku yakin ini juga yang pertama untuknya. Rasa bibirnya sangat lembut, mencium Selena adalah kesalahan karena membuatku menginginkan lebih. Aku sungguh tidak ingin meninggalkan kenikmatan paling menyesakkan ini. Bibir Selena yang terbuka membuatku semakin menggila ingin mendapatkan lebih.

Tapi tidak ada waktu untuk kami melanjutkannya, pelayan sudah membuka pintu mobil supaya kami bisa lekas turun.  Untung saja aku menghentikan ciuman kami tepat waktu, bisa saja seseorang menangkap perbuatan kami yang akan membuat Selena lebih malu lagi.

"Kita sudah sampai".

"Oh".

Aku menggandeng tangan Selena memasuki aula yang luas. Terlalu berlebihan memang keluarga kaya  satu  ini dalam menghamburkan uang. Dari pada  mengadakan pesta dan mengundang orang-orang yang tidak butuh diberi makan, harusnya paman Smith  memakainya untuk membawa anaknya mengikuti sekolah kepribadian.

"Austin kau datang".
Claudia berlari menyapaku, meninggalkan teman-temannya dan berusaha memelukku. Aku sudah mengantisipasi sikapnya dengan menjabat tangannya lebih dulu. Salah satu alasan aku menjauhi Claudia adalah sikapnya yang manja dan merepotkan, meskipun dia adalah anak dari paman Smith sahabat ayahku sendiri.

"Hei Clau, selamat ulang tahun".

"Terimakasih Austin. Mengapa kau datang terlambat?  Aku menunggumu. Siapa gadis yang bersamamu ini?".

" Kenalkan, ini Selena".

"Siapa Selena? Apa hubungannya denganmu, Austin?".
Claudia terlihat gusar melihat tangan kiri Austin memeluk pinggang Selena dengan posesif.

"Selena adalah kekasihku".

"Tidakkkkkk". Teriak Claudia.

Seketika suara hinggar binggar di aula menjadi lenyap. Semua mata melihat kami dengan penasaran, dan suasana ini membuat Selena berdiri dengan tidak nyaman. Menjadi sasaran rasa penasaran orang-orang diseluruh aula membuat keringat dingin membasahi pungungnya. Ini bukan pesta kecil yang hanya dihadiri teman dekat, tapi pesta mewah dengan ratusan undangan. 

"Kau ......kau.... bagaimana mungkin bersama gadis seperti ini, dia tidak pantas untukmu, Austin. Aku yakin kalian tidak serius". Claudia semakin histeris dan ini membuatku semakin tidak menyukainya.

Aku menggenggam kuat tangan Selena  dan membawanya  menjauhi Claudia untuk menemui ketiga sahabatku. Berada dekat Claudia membuatku tidak nyaman. Tapi aku sempat melihat ekspresi campur aduk  Claudia  antara terkejut, marah dan malu.

"Kau datang akhirnya?".
Raymond tersenyum pada kami berdua.

"Maaf...Kami terlambat." Tapi tidak ada penyesalan dari kata-kata Austin.

"Tidak apa, pesta ini menjadi begitu membosankan. Hanya pertunjukanmu tadi yang bisa mengejutkan kami".

"Pertunjukan?". Austin pura-pura tidak mengerti.

"Tentu saja, K-E-K-A-S-I-H". Raymond bahkan mengejanya.

"Oh".

"Kau tidak ingin mengenalkan gadis yang datang bersamamu ini? oh lebih tepatnya KEKASIH-mu pada kami?"

"Selena, kenalkan ini Raymond sahabatku yang paling banyak bicara, dan yang berkacamata ini adalah Edward dia satu departemen denganku , dan dia Aland. Aland dan Raymond kuliah di departemen komputer."

Aland melihat gadis yang datang bersama Austin dengan ekspresi terkejut yang tidak disembunyikan. Gadis yang dibawa Austin adalah Selena. Gadis yang disukainya. Dia sangat cantik seperti peri dengan gaun putihnya. Apakah Selena sudah lama menjadi kekasih Austin? Ah tidak, Austin dan Selena tidak saling mengenal saat kami makan dikantin beberapa waktu yang lalu.

"Aku Aland. Senang berkenalan denganmu". Aland lebih dulu mengulurkan tangannya.

"Sele-na".

"Oh aku ingat, kau si cantik dari departemen bisnis kan?".
Raymond menyela, terlihat berusaha menempel pada Selena yang masih menjabat tangan Aland dengan malu-malu. Pertanyaan Raymond membuat Selena mulai waspada.

"Maaf?".

"Aku sering melihatmu diperpustakaan. Dan kadang-kadang di Culture Espresso yang jaraknya beberapa blok dari asrama perempuan".
Raymond tampak mulai mengenali Selena. Sangat menyukai daya ingatnya yang luar biasa.

"Aku bekerja disana".

"Apaaaa???".

Edward dan Raymond saling berpandangan, tidak mempercayai pendengaran mereka sendiri. Kekasih dari Austin Morgan bekerja sebagai pelayan. Ini sungguh diluar dugaan.... bagaimana mungkin Austin bisa mengenal gadis pelayan? Meskipun gadis ini cantik luar biasa tapi dia hanya pelayan. Raymond  yakin, Mr Morgan Senior tidak akan merestui hubungan putra satu-satunya dengan gadis biasa seperti dia. Kecantikannya tidak bisa menutupi kekurangannya dalam status sosial dan kekayaan.

Menjadi kekasih Austin Morgan akan membuatnya dibenci. Karena mereka tidak bisa membully Austin, maka mereka pasti akan mengincar Selena.

"Apa kau ingin minum, Selena?"
Austin menarik Selena supaya lebih mendekat kepadanya.

"Tidak, aku tidak bisa minum". Selena berbisik.

"Tidak?". Austin sedikit menunduk, memperhatikan wajah cantik Selena.

"Tidak".

"Ini untukmu, Se-le-na".
Entah sejak kapan Claudia sudah berada dihadapan kami, membawa  dua gelas minuman  dan memberikan satu pada Selena. Tapi Selena tidak menerimanya.

"Terimakasih. Tapi aku tidak minum". Selena berusaha menolak dengan halus. 

"Kau benar-benar gadis mengecewakan. Segelas saja, hargai aku sebagai tuan rumah. Jangan pernah menolak permintaanku, kau sudah hadir dipesta ulang tahunku, setidaknya kita harus bersulang. Aku yakin, kau belum pernah mencicipi salah satu wine kelas atas. Jadi ini kesempatanmu merasakan Domaine de la Romanee Conti". Cecar Claudia tanpa ampun.

"Hentikan sikapmu yang kekanak-kanakan Clau!  Aku yang akan meminumnya".
Austin berusaha menahan ledakan amarahnya. Tangannya hendak meraih gelas di tangan Claudia, tetapi dengan gesit Claudia langsung menjauhkannya.

"Tidak Austin, ini untuk gadis itu".

Tidak ingin membuat tuan rumahnya semakin menjadi-jadi, Selena langsung mengambil gelas ditangan Claudia dan meneguk habis wine tanpa tersisa. Dia tidak butuh cara elegan seperti di film-film, dia hanya ingin cepat menghabiskan minumannya supaya tuan rumah tidak mengganggunya lagi. Meski akibatnya alkohol akan bereaksi lebih cepat di dalam tubuhnya. 

"Selena, kau tidak apa-apa?". Austin tampak khawatir ketika melihat cara Selena meminum winenya sekaligus.

"Aku baik-baik saja". 
Meskipun Selena tau, dia tidak pernah baik-baik saja. Dia tidak ingin mempermalukan Austin.

~~~~>>

Aland berjalan mendekat kearah Selena, melihat Claudia mendekati Selena membuatnya khawatir. Apalagi memaksa Selena minum membuatnya ingin marah. Sialan, harusnya Austin mencegahnya.

Raymond dan Edward melihat Selena dengan teliti, dari atas hingga bawah secara mendalam. Gadis ini memang luar biasa cantik tapi sayang dia sangat miskin. 

"Bagaimana kuliahmu, Selena?"

"Baik, terimakasih".

"Selena, Apa kau sebelumnya pernah melihat salah satu dari kami berempat?'
Tanya Edward penuh selidik. Edward tidak ingin Austin terjebak dengan gadis mata duitan. Austin sahabatnya, meskipun sahabatnya seorang jenius tapi dia belum pernah berhubungan dengan gadis manapun. Edward takut Austin terjebak dengan kepalsuan Selena.

"Bagaimana mungkin gadis ini tidak mengenal kalian, jangan bercanda". Sindir Claudia.

"Maaf, aku memang tidak pernah melihat mereka sebelumnya".
Selena menjawab jujur. Dia tidak punya kemewahan untuk bersosialisasi di Universitas.  Hidupnya hanya bergerak antara Universitas dan tempat kerja. Sakit kepala mulai menyerangnya, alkohol mulai mempengaruhinya. Oh sadarlah Selena!!!

"Unbelievable. Apa tidak ada yang pernah membicarakan kami di departemenmu? Aku misalnya?."
Raymond terlihat syok, tapi dia dapat melihat kejujuran dimata Selena.

"Apa kau Presiden Amerika? Sehingga aku harus tau segalanya tentangmu? Tapi tidak, aku memang tidak pernah melihatmu. Mungkin kau tidak pernah mengikuti perkuliahan atau kau terlalu malu masuk kuliah karena sering membolos". Selena mulai tidak dapat mengontrol kata-katanya. Bahkan kata-katanya keluar begitu saja tanpa mampir keotaknya lebih dulu. Alkohol sialan ini telah membuatnya tampak bodoh.

"Hahahaha. Satu kosong Raymond". Aland terlihat gembira melihat perdebatan di depan matanya. Benar yang didengarnya dari mahasiswi-mahasiswi di departemen bisnis, bahwa Selena adalah mahasiswi yang sangat cerdas. Andaikan dia tak menyukainya, mungkin dia akan mendukung hubungan antara Austin dan Selena. 

"Austin, kau menemukan lawan yang sepadan". Edward berbisik ditelinga Austin yang sedang menatap Selena penuh arti.


~~~>>

"Kepalaku rasanya berat sekali, Austin".

"Aku akan mengantarmu, berpeganglah padaku, aku akan berpamitan dengan yang lain."  Austin memapah Selena, menahan dengan tubuhnya sendiri supaya tidak jatuh.

"Kau akan pergi, Austin? Bukankah kau baru tiba? Aku akan menyuruh sopir mengantar gadis itu pulang jadi kau bisa tinggal disini bersama yang lain".

Claudia memperlihatkan sikap bermusuhannya kepada Selena yang lebih banyak diam. Bahkan dia tidak berusaha menutupi kebenciannya pada Selena.

"Aku bisa mengantar Selena kembali ke asrama, Austin".
Aland menawarkan diri, dia ingin memperingatkan gadis itu supaya berhati-hati dengan Claudia.

"Tidak perlu Aland, Selena datang bersamaku, aku yang bertanggung jawab mengantarnya pulang".

"Baik. Pergilah kalian! Hati-hati Austin dan kau juga Selena".

Selena hanya mengangguk padanya sebagai tanda terimakasih yang tak terucap. Kepalanya terasa semakin berat, dia akan tidur hingga siang besok. Dan untung saja besok dia libur.


~~~>>>

"Selena".

"Selena".

"Selena".

Gadis ini benar-benar tertidur pulas. Aku tidak mungkin membawanya pulang keasrama dalam keadaan seperti ini. Apalagi  jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Segera aku meminta sopir taxi untuk memutar kembali menuju apartemen yang aku beli dari keuntungan investasiku sebelum masuk Universitas.

Apartemen itu memang kecil, tapi sangat bersih. Ini adalah rumahku sejak aku keluar dari rumah keluarga Morgan.

"Selena".

Gadis ini hanya meminum satu gelas wine dan dia menjadi tidak sadarkan diri. Dimasa depan, aku tidak akan mengizinkanmu meminumnya lagi Selena.

Dia benar-benar tidak terjaga sedikitpun. Aku memegang keningnya dan mendapati kalau gadis ini demam. Ya Tuhan, seburuk itukah efek alkohol dalam tubuhnya? Aku segera menggendongnya dan membawanya ke satu-satunya tempat tidur di apartemenku yang kecil. Keringat keluar dari tubuhnya, gaunnya juga basah.

Maafkan aku Selena tapi aku harus melepas gaunmu, kau juga tidak akan nyaman memakai gaun ini untuk tidur.

"Hhhhhh"

"Selena!".

"Ehm...hhh".

"Selena, Kau sudah bangun?"

"Aus...tin? Dimana a...ku?"

"Kau ada di apartemenku, kau demam".

"Ohhh, kepalaku berat sekali. Jam berapa sekarang?"

"Jam 2 pagi".

"Aku harus pulang".

"Besok aku akan mengantarmu, sekarang kau tidurlah. Apa kau ingin makan sesuatu?".

"Ti...dak, aku perlu kekamar mandi".

"Selena"

"Auchh gaun....ku".

"Aku melepasnya. Gaunmu basah penuh keringat".

"Austin?".

"Ehm?".

"Apa kita...?".

"Kita tidak melakukannya jika itu yang ingin kau tanyakan. Aku tidak akan pernah melakukan itu tanpa seizinmu, Selena". Austin menatap gadis cantik didepannya, tubuhnya terbungkus selimut, dia terlihat seperti anak anjing yang rapuh.

"Maafkan aku, apa aku boleh meminjam kemejamu?"

"Akan aku bawakan".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cinta Itu Pasti Kembali Part 9

# Engagement Party "Gaunmu sangat cantik, Clau". "Terimakasih. Natalie yang merancangnya". "Kau meminta sahabat ...